-->

ESSAI-PERAN PEMUDA TERHADAP LAGU-LAGU DAERAH SEBAGAI WUJUD NASIONALISME

- Sunday, January 04, 2015
advertise here
advertise here
Ini essai yang pernah gue ikutin di event peringatan Bulan Bahasa UGM. Peserta MEMBLUDAK, guys... Jenis lombanya kece sih. Selain essai juga ada cerpen, puisi, and komik. Nyeselnya gue kagak ikut yang komik -_-" 

Awalnya nih ya, target penerimaan naskah itu cuma 800. Eh, ini malah kebanjiran sampe 2000-an... Hmmm emang sungguh luar biasa kece badainya ya tu acara...! Jadi ya... ketat banget kompetisinya, dan walhasil... gue kagak menang... Ya udahlah... NEVER MIND... Keberhasilan seseorang itu juga ada waktunya. Karena gue tau Tuhan gak mungkin ngabulin semua keinginan orang-orang yg ikut berpartisipasi di perlombaan itu buat menang semua kan? Bisa dibayangin gak gimana kalo Tuhan ngabulin semua doa mereka... Hahha... Bisa dibilang tu acara bukan acara perlombaan lagi kan gegara semuanya menang...

So... kali ini gue mau posting hasil karya gue, essai...

PERAN PEMUDA TERHADAP LAGU-LAGU DAERAH SEBAGAI WUJUD NASIONALISME
Oleh: Firda Bing Slamet
Di era-globalisasi seperti sekarang ini sangat rentan bagi bangsa Indonesia untuk terus mempertahankan keanekaragaman yang telah mendarah daging dalam negara kita. Modernisasi yang lebih condong ke arah budaya barat sudah melanda di segala aspek kehidupan bangsa Indonesia yang notabene menganut budaya ketimuran. Dan budaya ketimuran sangat menjunjung tinggi adat kesopan santunan. Jauh berbeda dengan budaya barat. Kebebasan adalah hal yang sudah menjadi rutinitas dalam setiap sisi kehidupan, yaitu kebebasan dalam pergaulan dan berpenampilan. Tak jarang pula dikemas dalam bentuk  hiburan. Contohnya, muncul lagu-lagu barat dan bernuansa oriental yang seharusnya tidak menjadikan kita lupa akan lagu daerah yang kita miliki. Namun faktanya, terkadang banyak yang rela berdesak-desakan hanya untuk sebuah konser yang sebenarnya berlawanan dengan budaya kita sendiri. Boy band dan girl band sudah menjadi sesuatu yang amat dipuja-puja di kalangan pemuda. Dengan modal fisik yang tampan dan cantik serta kekharismaan penampilan sudah dapat menyeret kaum pemuda untuk setia mengaguminya. Tak jarang pula yang menjadikannya sebagai trendsetter. Walaupun dirasa memang memberikan dampak positif karena era-globalisasi juga membantu kita untuk mengetahui dengan mudah dan cepat mengenai topik apa yang sedang populer, tetapi kita juga harus peka terhadap dampak negatif yang ditimbulkan.
Dampak yang ditimbulakan dari merajalelanya lagu-lagu tersebut baik bernuansa kebaratan maupun oriental tanpa adanya pembatas dan pemfilter akan memulai hilangnya rasa untuk memupuk keanekaragaman budaya Indonesia, terkhusus lagu-lagu daerah. Lagu daerah menjadi terdengar asing di telinga para pecinta  produk asing. Bahkan banyak dari kalangan pemuda yang memiliki rasa gengsi apabila harus menjadikan lagu daerahnya sendiri layaknya lagu pop baik nasional maupun internasional. Rasa seperti itu adalah salah satu tanda sudah mulai pudar dan terkikisnya rasa kecintaan terhadap keanekaragaman budaya Indonesia.  Benar-benar mengkhawatirkan. Yang mana pemuda adalah generasi, pelopor atau penerus perjuangan bangsa. Apabila generasinya saja saat ini sudah mulai melupakan kebudayaan-kebudayaannya bahkan gengsi, bagaimana dengan selanjutnya? Jejak apa yang akan ditinggalkan serta diberikan oleh generasi digital masa kini untuk masa depan?

Seberapa pentingkah lagu-lagu daerah?
Bumiku Lampung tanoh kulawi
Panjakwah wah di nusantara
Tani tukun sangun jak jebi
Tanoh Lampung tanoh Lada
Kutipan lirik lagu daerah berjudul Lampung Tanoh Lado dari Lampung di atas merupakan salah satu contoh keragaman budaya Indonesia. Bagi masyarakat yang bukan penduduk dan tidak berdomisili di daerah Lampung, bahasa dalam lirik lagu tersebut tidak serta-merta mudah untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, bahkan diucapkannyapun akan terasa kelu, sehingga belum tentu masyarakat dapat memahami secara utuh isi dari lagu tersebut. Padahal, dari lagu tersebut masyarakat dari daerah di luar Lampung dapat belajar banyak mengenai kondisi geografis Provinsi Lampung sekaligus kebudayaannya.
Jika setiap masyarakat memiliki inisiatif atau tekad tersendiri untuk mempelajari bahasa daerah yang bukan dari tempat asalnya, maka akan semakin besar pula dalam memahami dan memaknai Indonesia. Karena rasa nasionalisme yang tumbuh terhadap budaya tidak hanya terfokus pada budaya yang kita tempati saja. Sebab lainnya adalah kebanggan terhadap kenekaragaman pun akan meningkat karena masing-masing orang saling memahami budaya dari daerah lain. Kita harus bangga karena memiliki banyak keanekaragaman budaya. Karena semakin banyaknya keanekaragaman atau perbedaan, semakin banyak kita diberi kesempatan untuk belajar dan menambah wawasan. Sesuai dengan dituntutnya sebagai pemuda, yaitu di samping harus memiliki etika profesional juga harus memiliki wawasan yang luas. Maka dari itu pembelajaran terhadap kebudayaan Indonesia adalah salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan diri dalam bersosialisai, toleransi, kualitas, dan solidaritas.
Hal yang patut kita sadari adalah sarana pendidikan dapat dijadikan sebagai wadah yang memberikan potensi untuk saling mengeksplorasi kebudayaan di Indonesia. Banyaknya latar belakang mahasiswa dari berbagai macam suku dan ras contohnya. Karena dalam perkuliahan pengenyam bukan hanya berasal dari satu daerah saja, melainkan dapat mencapai belasan bahkan puluhan daerah dalam satu perguruannya. Maka dari itu dengan keberagaman mahasiswa, sudah sepatutnya untuk saling belajar memahami kebudayaan dari daerah lain. Dengan cara seperti itu maka mahasiswa tidak perlu mengeluarkan banyak materi untuk mengenali dan mempelajari budaya daerah lain. Saling berbagi dan bercerita mengenai budaya dari daerah asal dapat menjadikan  masing-masing individu dapat saling memahami, menghargai, mengenal, dan yang pasti mencintai keanekaragaman di Indonesia.
Keanekaragaman adalah suatu hal yang amat sangat berwarna dan tidak semua negara memilikinya. Kita patut bangga dengan apa yang Indonesia miliki. Puluhan atau bahkan ratusan lagu-lagu daerah dari 33 provinsi di Indonesia merupakan keanekaragaman yang patut dibanggakan. Ada pula bahasanya, alat musiknya dan berbagai macam keanekaragaman yang tidak akan cukup jika hanya dijabarkan dalam sebuah esai. Saking begitu uniknya keanekaragaman Indonesia, banyak menarik turis-turis asing mancanegara untuk berkunjung ke Indonesia menyaksikan dan mengabadikan setiap moment-moment penting kebudayaan. Bahkan yang tak disangka adalah banyak orang-orang asing yang ikut berpartisipasi dalam pelestarian. Cara yang mereka lakukan sangat patut untuk diberi sebuah apresiasi. Contoh nyata dari hal tersebut dapat kita lihat pada seorang wanita dengan latar belakang kebaratannya. Sosok wanita kelahiran USA, 19 Desember 1964, Karen Elizabeth Sekararum ini mampu menyanyikan lagu tembang Jawa. Hobi menari dan menyanyikan tembang jawa atau dalam bahasa Jawanya adalah nyinden, kini telah menjadi sebuah identitas yang tak terpisahkan dari sosok perempuan kelahiran Chicago, Amerika Serikat itu. Elizabeth mengaku akan kecewa jika seni budaya tradisional sering diposisikan di tempat kedua setelah kebudayaan modern. Padahal untuk masyarakat Indonesia sendiri saja belum tentu bisa untuk menghafal dan akan terasa sulit dalam melafalkannya. Karena kita tahu bahwa bahasa di Indonesia memiliki banyak keberagaman. Dan di antara keberagaman itu memiliki bahasa yang tingkat kesulitan maupun kemudahannya berbeda-beda.

Lalu bagaimanakah tindakan kita menyaksikan hal tersebut?
            Apakah kita hanya harus berdiam diri menyaksian lagu daerah kita yang dengan fasihnya disuarakkan oleh orang dari negara asing? Dengan keras jawaban TIDAK sangat patut untuk dilayangkan. Rasa nasionalismelah yang harus kita kobarkan dan tunjukkan terhadap lagu-lagu daerah. Menumbuhkan rasa nasionalisme tidak harus dengan melakukan tindakan-tindakan yang besar. Menyanyikan lagu daerah dan memahami arti dengan pengetahuan yang kita dapat adalah salah satu wujud nasionalisme yang dapat memberikan manfaat besar bagi bangsa Indonesia. Seperti yang pernah presiden pertama kita, Bung Karno slogankan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat menghargai kebudayaannya. Salah satu persepsi yang dapat kita ambil dari slogan tersebut adalah karena kebudayaan kita meluas dan besar maka apabila kita, bangsa yang dengan jumlah pertumbuhan penduduknya besar ini mampu menumbuhkan rasa naionalisme di dalamnya, maka kita akan disebut sebagai bangsa yang besar.
Mempelajari berbagai macam bahasa daerah merupakan cara efektif untuk lebih memahami keberagaman budaya di Indonesia. Namun, mempelajari di sini bukan berarti diharuskan untuk dapat memahami secara fasih dan keseluruhan seperti halnya penduduk asli daerah tersebut, melainkan setidaknya mampu mengetahui arti bahasa dari lirik lagu daerahnya. Tetapi jika ada yang lebih memahami secara keseluruhan seperti halnya penduduk asli, tentu hal itu sangatlah baik. Lagu daerah adalah media yang dapat digunakan untuk meningkatkan pengetahuan mengenai bahasa daerah di Indonesia. Karena lagu daerah merupakan pencerminan dari kondisi, kegiatan, sumber daya, adat istiadat, dan tidak terlepas dari budaya masyarakatnya. Setiap lagu dan musik yang mengirinya pasti selalu memiliki karakteristik atau ciri khas masing-masing. Dengan memahaminya, toleransi dan solidaritas antar daerah dan kebanggaan terhadap keanekaragaman di Indoensia akan meningkat.
Ingatlah bahwa bukan bahasa Indonesia yang akan menjadikan kita kembali bangga dengan keanekaragaman yang ada di negara ini. Justru lagu daerahlah yang nantinya akan meningkatkan kebanggaan kita terhadap keanekaragaman. Bahasa Indonesia hanyalah perantara agar kita dapat semakin memahami keanekaragaman di Indonesia.

Bagaimana cara kita memproteksi lagu daerah dalam menghadapi globalisasi?
            Dengan memperbanyak pengetahuan dan menambah wawasan mengenai keanekaragaman yang ada di Indonesia merupakan modal bagi masyarakat, terkhusus generasi muda dalam menghadapi globalisasi. Bahkan modal tersebut menjadi syarat mutlak karena banyak orang dan turis-turis asing mancanegara berdatangan ke Indonesia untuk mempelajari budaya dan keanekaragaman yang ada di Indonesia, begitu juga sebaliknya, mahasiswa Indonesia yang akan pergi ke negara lain untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Apabila mahasiswa yang memang dituntut menjadi generasi intelek, tidak dapat menjelaskan dan menceritakan kebudayaan Indonesia di saat mendapatkan pertanyaan dari orang negara lain, maka seharusnya mahasiswa tersebut harus benar-benar memiliki rasa malu.
            Sebenarnya kita sendiri telah mempelajari lagu-lagu daerah sejak kecil. Mulai dari bangku SD dengan lagu-lagu daerah yang sederhana atau mudah untuk dilafalkan hingga bangku SMA dengan tingkatan bahasa yang lebih sulit. Namun, apakah pembelajaran itu sudah bisa dikatakan efektif? Tidak. Masih banyak kekurangan dari pengajaran tersebut. Hal ini dikarenakan pengajar tidak mengajarkaan lagu disertai dengan arti dan maknanya.
Mengapa seperti itu? Karena pengajar tidak memiliki kemampuan dalam menerjemahkan lirik lagu dari daerah lain ke dalam bahasa Indonesia, bahasa resmi yang digunakan dalam pengajaran. Itulah mengapa khususnya pengajar yang kebanyakan berperan di bangku TK, SD, dan PAUD harus lebih banyak mempelajari bahasa dari daerah lain. Karena dengan pengetahuan berbagai bahasa daerah sejak dini, generasi muda akan mendapatkan pembekalan yang lebih matang dan relatif lebih cepat memahami keanekaragaman Indonesia, karena di usia dinilah anak anak masih memiliki ingatan dan kemampuan otak yang luar biasa baik.
Sebagai mahasiswa yang lebih memiliki kemampuan dalam teknologi dibandingkan pelajar yang berada di bawahnya, kita dapat melakukan tindakan yang lebih terhadap pelestarian lagu-lagu daerah. Mahasiswa dapat melakukan inventarisasi lagu-lagu daerah dari seluruh Indonesia dan kemudian memanfaatkannya dalam bentuk pembuatan lirik-lirik lagu daerah yang mana membutuhkan peran media cetak, dan dapat juga dilakukan melalui media visual maupun audio visual. Membuat bagaimana caranya agar lagu-lagu daerah tersebut dibingkis dan inovasikan semenarik mungkin dengan bantuan teknologi dan kemampuan  ilmu lainnya agar tidak timbul rasa gengsi di kalangan pemuda dengan anggapan bahwa lagu daerah merupakan lagu kuno dan terbilang kolot. Solusi tersebut diusungkan agar lagu-lagu daerah di Indonesia tidak punah tergilas ditengah-tengah roda modernisasi yang mengglobal. Perwujudan nasionalisme pada lagu-lagu daerah dapat dilakukan melalui hal-hal yang kecil hingga besar. Nasionalisme akan meningkat ketika setiap orang di negara ini merasa memiliki dan mencintai keberagaman dari seluruh daerah di Indonesia.

Advertisement advertise here

Silahkan jika ada yang ingin berkomentar. Hehe
EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search