Optimalisasi Produktifitas dan Konsumtifitas Hasil Ternak Indonesia dalam Menghadapi MEA 2015
Oleh: Firda Bing Slamet
Pada tahun 2015, sepuluh negara ASEAN memberlakukan kawasan ekonomi tunggal ASEAN yang disebut Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Tujuannya adalah untuk menghimpun masyarakat menjadi satu yang nantinya akan mendapatkan banyak peluang ekonomi. Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Suryo Bambang Sulisto mengatakan tujuan pembentukan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 adalah terciptanya kawasan ekonomi ASEAN yang kompetitif dan terintegrasi dengan ekonomi global. Maka bisa dipahami bahwa sudah seharusnya kita sebagai bangsa Indonesia siap dalam menghadapi MEA 2015. Yang mana pada tahun mendatang setiap negara-negara yang berada di kawasan Asia Tenggara atau yang tergabung dalam ASEAN (Assosiaton of South East Asian Nation), dirasa penting untuk memiliki daya saing dalam berkompetisi dan kebermilikan dalam hal komoditas.
Masing-masing negara harus mengoptimalkan bidang-bidang apa saja yang dimiliki. Karena untuk setiap negara, khususnya Indonesia sendiri harus menyadari bahwa nantinya MEA akan memberikan 2 buah peluang yang berlawanan, bisa membawa manfaat (land of opportunities) juga bisa membawa musibah (loss of opportunities), dan apakah nantinya kita akan menjadi produsen yang banyak mengekspor atau justru menjadi sasaran empuk para importir.
Di Indonesia, pasar bebas menuntut komoditas peternakan harus memiliki daya saing dan kualitas terhadap produk impor agar produk lokal tidak tersingkir. Jadi, mau tidak mau peternak di Indonesia harus mencari cara dan solusi agar produk-produknya mampu setara dengan kualitas produk impor, yang sering dikenal oleh masyarakat lebih berkualitas. Aktivitas lain selain produksi yang juga perlu diperhatikan adalah konsumsi terhadap hasil ternak. Mengkonsumsi produk hasil ternak dengan baik dan optimal akan memperbaiki kualitas sumber daya manusia.
Bagaimana konsumsi masyarakat terhadap pangan hewani di Indonesia?
Data statistik menunjukkan bahwa pada tingkat konsumsi terhadap susu saja Indonesia adalah negara yang tingkat produksi serta konsumsinya rendah, satu tingkat di bawah Vietnam. Padahal kita tahu bahwa Vietnam adalah negara yang sering mengalami peperangan. Tetapi Vietnam memiliki tingkat daya tarik dalam kegiatan konsumsi terhadap hasil ternak lebih tinggi dibandingkan Indonesia. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tahun 2011 menunjukkan bahwa rata-rata konsumsi susu orang Indonesia hanya dua sendok makan per hari atau sekitar 42,44 ml. Jumlah ini pun jauh lebih kecil dibandingkan negara Asia lainnya yang unggul dalam konsumsi minum susu. Berdasarkan data Kementerian Pertanian (Kementan), tingkat konsumsi susu masyarakat di India per kapita tahun 2011 tercatat sebanyak 42,8 liter, Malaysia (22,1 liter), Thailand (33,7 liter), Filipina (22,1 liter), Vietnam (12,1 liter) dan Indonesia (11,9 liter). (Dwitya Martharini, 2013)
Data statistik menunjukkan bahwa pada tingkat konsumsi terhadap susu saja Indonesia adalah negara yang tingkat produksi serta konsumsinya rendah, satu tingkat di bawah Vietnam. Padahal kita tahu bahwa Vietnam adalah negara yang sering mengalami peperangan. Tetapi Vietnam memiliki tingkat daya tarik dalam kegiatan konsumsi terhadap hasil ternak lebih tinggi dibandingkan Indonesia. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tahun 2011 menunjukkan bahwa rata-rata konsumsi susu orang Indonesia hanya dua sendok makan per hari atau sekitar 42,44 ml. Jumlah ini pun jauh lebih kecil dibandingkan negara Asia lainnya yang unggul dalam konsumsi minum susu. Berdasarkan data Kementerian Pertanian (Kementan), tingkat konsumsi susu masyarakat di India per kapita tahun 2011 tercatat sebanyak 42,8 liter, Malaysia (22,1 liter), Thailand (33,7 liter), Filipina (22,1 liter), Vietnam (12,1 liter) dan Indonesia (11,9 liter). (Dwitya Martharini, 2013)
Rendahnya konsumsi protein hewani berdampak pada tingkat kecerdasan dan kualitas hidup penduduk Indonesia, lebih tepatnya kualitas SDM. Sebagaimana ditunjukkan oleh peringkat Human Development Indeks (HDI) tahun 2004 yang dikeluarkan United Nation Development Program (UNDP). Dalam periode tersebut, Indonesia berada pada peringkat ke-111, satu tingkat di atas Vietnam (112), namun jauh di bawah negara ASEAN lainnya, Singapura (peringkat 25), Malaysia (59), Thailand (76) dan Fhilipina (83). Studi menunjukkan adanya hubungan tingkat konsumsi protein hewani pada anak usia pra-sekolah. Konsumsi protein hewani yang rendah pada anak usia pra-sekolah dapat mengakibatkan anak-anak berbakat normal menjadi sub-normal. (Tyar, 2012)
Peningkatan konsumsi protein hewani dapat mengurangi frekuensi kejadian defisiensi mental. Selain untuk kecerdasan, protein hewani dibutuhkan untuk daya tahan tubuh. peranan protein hewani dalam mencegah terjadinya anemia pada orang yang menggunakan otot untuk bekerja keras. Gejala anemia tersebut dikenal dengan istilah “sport anemia”. Penyakit ini dapat dicegah dengan mengkonsumsi protein yang tinggi, dimana sebanyak 50% dari protein yang dikonsumsi harus berasal dari protein hewani.
Bagaimana cara mengoptimalkan produktifivitas dan konsumtivitas hasil ternak di Indonesia?
Banyak cara dan usaha yang dapat dilakukan dalam mengoptimalkan produksi dan konsumsi hasil ternak guna menghadapi MEA 2015, yaitu:
1. Melakukan perencanaan dan pengembangan sistem logistik peternakan. Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, Syukur Iwantoro, dalam paparannya di Sarasehan Institut Pertanian Bogor, Jakarta Convention Center pada 20 Juni 2014 menyebutkan, kesuksesan bidang peternakan menghadapi MEA tidak terlepas dari dukungan sistem logistik peternakan yang baik (M. Ikhsan Shiddieqy S.Pt, 2014). Berbagai persoalan dalam logistik peternakan di Indonesia antara lain disebabkan oleh belum adanya perencanaan dan pengembangan sistem logistik peternakan secara khusus, masih panjangnya rantai distribusi ternak dan produk ternak. Selain itu, transportasi ternak lokal antar daerah dan antar pulau masih dikelola secara tradisional.
2. Meningkatkan kualitas dalam sistem peternakan. Karena konsumen baik yang berada di dalam maupun luar negeri sudah pasti menginginkan produk-produk peternakan yang berkualitas dan berdaya saing. Dalam memenuhi kebutuhan hidup, konsumen sangat selektif dalam mendapatkan barang-barang, khususnya untuk kebutuhan pangan. Melihat sikap konsumen tersebut, maka aspek budidaya, produksi, maupun aspek pengolahan (processing) harus lebih ditingkatkan lagi kualitasnya. Sehingga produk akhir yang dihasilkan dapat bersaing dengan produk impor. Dengan jumlah penduduk lebih dari 237 juta jiwa dan laju pertumbuhan 1,49 persen, Indonesia seharusnya jangan hanya menjadi pasar bagi produk impor.
3. Meningkatan Indeks Pembangunan Mahasiswa (IPM) melalui peningkatan konsumsi protein hewani. Rendahnya konsumsi protein hewani berdampak pada tingkat kecerdasan dan kualitas hidup penduduk Indonesia. Malaysia yang dahulunya merupakan negara yang banyak belajar dari Indonesia bahkan mendatangkan pengajar-pengajar dari Indonesia, sekarang jauh meninggalkan Indonesia dalam kualitas sumber daya manusia (SDM) sebagaimana ditunjukkan oleh peringkat Human Development Indeks (HDI) tahun 2007/2008 yang dikeluarkan UNDP. Indonesia berada pada peringkat ke 107, sedangkan Malaysia pada peringkat ke 63. Bahkan Indonesia berada dibawah Vietnam (peringkat 105) merupakan negara yang baru mulai bangkit setelah selama bertahun-tahun dilanda perang saudara. (VOA/UNDP, 2013)
4. Memperbanyak riset dan penelitian serta penemuan dalam produksi pasokan bahan baku pakan ternak. Hal itu perlu dilakukan mengingat ketergantungan peternakan unggas terhadap pasokan bahan baku impor masih sangat tinggi. Seperti yang dikatakan oleh M. Ikhsan Shiddieqy, S.Pt, seorang peneliti di Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan bahwa salah satu komponen yang masih dipenuhi oleh impor adalah jagung sebagai bahan baku pakan. Sebesar 60 % dari harga pakan ditentukan oleh harga jagung. Kebutuhan jagung pada 2012 saja sudah mencapai 6,75 juta dengan total konsumsi pakan ternak 12,3 juta ton (M. Ikhsan Shiddieqy, S.Pt, 2014). Banyak alternatif lain yang telah ditemukan guna memenuhi kebutuhan pakan ternak, salah satunya memanfaatkan limbah pertanian dan perkebunan sebagai pakan alternatif ternak agar menuju peternakan yang berkelanjutan (Siti Zubaidah, 2014). Selain itu pemanfaatan limbah kulit nanas, fermentasi jerami, tepung limbah udang windu dan limbah lainnya bisa digunakan sebagai alternatif pakan ternak. Namun ketersediaan hasil limbah-limbah yang menucukupi tersebut, ternyata belum dimanfaatkan secara maksimal oleh peternak.
5. Melakukan penyuluhan tentang cara-cara beternak yang baik dan produktif ke beberapa daerah yang memiliki usaha ternak. Di sini sangat dibutuhkan peran mahasiswa yang menempuh studi peternakan, saat KKN contohnya. Banyak mahasiswa yang hanya melakukan sekadarnya saja dalam melaksanakan tugasnya. Sebagian besar hanya melakukan pembersihan-pembersihan terhadap kandang ternak, membuat gapura dan nama jalan gang, membantu para ibu-ibu desa membuat makanan, dan lain-lain yang mana hal tersebut kerap kali dan biasa dilakukan. Jika dari hulu hingga ke hilir hanya melakukan itu itu saja, maka negara kita tidak akan segera maju. Apalagi Indonesia akan dihadapkan dengan MEA 2015. Maka dari itu, peningkatan sumber daya manusia perlu ditingkatkan, terutama mahasiswa yang bergelut pada bidang ilmu peternakan.
6. Memproses kotoran hewan menjadi gas metana yang dapat membangkitkan listrik. Gas metana akan berbahaya jika dibiarkan, karena dapat merusak lapisan ozon (atmosfer). Jadi jika digunakan menjadi tenaga listrik, sebuah peternakan mempunyai fungsi yang sangat maksimal. Hal ini dilakukan mengingat peternakan yang maju bukan hanya peternakan yang mengembangbiakkan hewannya saja.
7. Meningkatkan distribusi makanan dan obat-obatan. Perlunya perawatan untuk setiap hewan ternak akan menentukan pula hasil produksi ternak. Ternak yang sehat akan menunjang kualitas produk. Jika hewan ternak di Indonesia sering terjangkit penyakit, sudah dipastikan tingkat produksi serta konsumsi akan menurun.
Oleh karena itu, pengembangan peternakan dalam menghadapi MEA harus dilakukan melalui kerjasama dengan berbagai pihak yang menjadi stakeholder dalam bidang peternakan. MEA seharusnya tidak menjadi penghambat dalam dunia peternakan, tetapi menjadi pemacu yang membangun sistem peternakan lebih maju, sejahtera, dan sustainable (berkesinambungan), dan kegiatan produksi serta konsumsi hasil ternak di Indonesia adalah usaha yang perlu dilakukan secara optimal, agar program masyarakat ekonomi ASEAN tahun 2015 berjalan dengan baik di sektor peternakan. Peran aktif dari pemerintah, peternak dan stakeholders lainnya diharapkan terintegrasi dan terkoordinasi dengan baik di berbagai lini sektor peternakan.
“Negara yang kaya dengan ternak, tidak akan pernah miskin. Negara yang miskin dengan ternak, tidak akan pernah kaya.”
(Campbell dan Lasley, 1985)
(Campbell dan Lasley, 1985)
Advertisement
Silahkan jika ada yang ingin berkomentar. Hehe
EmoticonEmoticon