How are you,
all? Long time no see.
Kali ini gue
mau sedikit nge-review soal Film The Edge of Seventeen dan mau sedikit gue
serempet-serempetin sama problematika yang lagi gue hadapin saat ini. Cieh!
Lanjut dah. Kalo denger dari judulnya udah pasti terbersit di pikiran bahwa ni
film kayaknya film anak sekolahan. Tapi jangan salah, ini film bukan
menceritakan tentang keababilan remaja yang disajikan dengan bumbu keromantisan
melebihi standar lidah menerimanya... ya... you know lah what i mean.

Film The
Edge of Seventeen diproduksi tahun 2016 dengan genre Drama-Comedy Hollywood.
Menceritakan tentang... ah sebenernya gue gak mau spoiler. Ya intinya tentang
remaja (cewek) yang sedang menghadapi masa puber dan mencari jati diri.
Cuman... Si tokoh utama ini punya karakter yang beda dari remaja kebanyakan.
Bisa dibilang sedikit ansos, karena cuma punya satu temen, dan lagi-lagi nasib
temennya juga gak jauh beda dari si tokoh utama. Dari kecil bully-an udah jadi
makanan sehari-hari sampe si tokoh utama beranjak remaja. Tapi beruntung sih
masih bisa mempertahankan persahabatan mereka, sampe-sampe sesuatu yang tak
terduga terjadi. Si sahabat demen sama kakak dari si tokoh utama. Sedangkan
antara si kakak dan si adik (tokoh utama) bisa diibaratkan seperti anjing dan
kucing. Perbedaan karakter keduanya juga udah kaya langit dan bumi. Yang satu
gaul banget satunya lagi kuper. Tapi yang bikin gue suka sama karakter si tokoh
utama ini adalah doi orangnya setengah ceria setengah jutek setenagh lucu setengah galak dan
agak slengekan (ini bahasa apa ya?). Haha. Dan asal tau aja, rasa-rasanya apa
yang doi bilang itu nyaris semuanya bener. Ya... bisa dibilang banyak
dialog-dialog yang bikin "nyes" di film ini. Kayak waktu si tokoh
utama nyampein unek-uneknya ke si guru kelasnya. Parahnya ni, doi orangnya
seenaknya aja gitu. Ditambah lagi si guru punya karakter cuek sok-sok gak mau
denger, agak pendiam, bijaksana, sederhana, dan punya sifat humoris yang orang
gak bakal percaya kalo ternyata dia humoris. Haha. Kayak gini nih waktu si doi
curhat karena kesel sama problematika yang lagi doi hadapin:
"Everyone
just wants to fell important in life. Things is, no matter how important they
are, there is always gonna be someone more important. People get so uptight
about that. It's like, God, they don't realize that important doesn't
matter."
Ya
intinya, banyak orang yang cuma pengen jadi orang yang bisa dianggep penting,
yang bisa dibutuhin orang sana-sini. Semua orang ingin merasa penting di hidup
ini. Seolah-olah mereka ahli dalam segala hal. Tapi begitu ketemu orang yang
lebih ahli dari mereka, mereka ujung-ujung frustasi dan ngelebih-lebihin
persoalan tersebut. Ya ampun, mereka gak sadar, bahwa menjadi penting itu bukan
sesuatu yang penting. Dan ketika rasa percaya diri mereka timbul lagi, mereka
jadi ngerasa yang lebih baik lagi. Gak peduli apakah itu dipaksa atau asli.
Terus, ada percakapan antara doi sama maminya waktu keduanya lagi
sama-sama ngerasa rustasi. Gini nih:
"Everyone in the world is as miserable and empty as i am.
They're just better at pretending."
Ya emang bener sih, di dunia ini bukan cuma kita yang ngerasa kosong, semua orang juga merasa sama menyedihkan dan hampa. Cuman... ada aja orang yang lebih pinter dalam hal berpura-pura menyembunyikan masalah mereka. Hehe. Sumpah... denger kata-kata ini seolah-olah gue kayak lagi diceramahin gitu. Boleh ya gue curhat-curhat dikit. Gue kuliah udah semester 6. Di semester ini gue bisa ngontrak magang & skripsi. Walaupun nyatanya banyak juga mahasiswa yang gak dibolehin sama si pembimbing akademik (PA) buat ngontrak keduanya. Kalo gue? Gue sih akhirnya memutuskan untuk magang dan ambil kkn non reguler. Pikir gue skripsi bisa diurus di semester 7 nanti. Jadi, sekarang gue bisa fokus ke kuliah, magang, dan kkn. Tapi, liat temen-temen yang udah pada ngontrak skripsi dengan jalan ikut penelitian dosen sometimes bikin gue ngerasa kalo gue adalah orang yang tertinggal. Which is mereka yang udah pada ngurus siapa-siapa aja pembimbing skripsi mereka bikin gue jadi makin tergoda gitu. Tapi ada satu kenyataan yang harus gue sadari, bahwa gue belum dapet proyek dosen buat dijadiin penelitian, sedangkan deadline kontrak mata kuliah udah lewat. It's mean gue udah gak bisa lagi ngontrak skripsi di semester ini dong. Harapan itu cuma bisa terwujud di semester berikutnya (amin).
Tapi masalah belum selesai. Gue malah jadi kayak orang yang gak bersyukur gitu. Gue harusnya nyadar bahwa gue udah bisa ngontrak magang dan ikut kkn, gak kayak yang lainnya yang gak diizinin PA. Ya.. bisa dibilang gue nyaris kayak orang frustasi. Tapi pikiran gue mengatakan, bahwa salah besar kalo lo sampe frustasi. Ujung-ujungnya gue nyeramahin diri sendiri. Gue bilang ke diri gue, lihat, masih banyak temen-temen lo yang belum nyampe di posisi lo. Lagian yang ngontrak tu skripsi gak banyak-banyak amat. Dari sekian banyak mahasiswa di fakultas lo, gak nyampe 20 orang kan yang ngontrak tuh skripsi? Kenapa lo musti takut ketinggalan? Lo boleh frustasi tapi jangan sampe berlarut-larut. Tetep diem dan tenang. Gitu sih gue bilang ke diri gue. Sambil sesekali gue pikir-pikir lagi quote dari tu film. Di dunia ini, bukan cuma gue yang ngerasa hampa dan menyedihkan. Semua orang juga sama. Bedanya, ada aja orang yang pinter nyembunyiin masalah mereka.
Gue tambah quote lagi nih, "Jangan merasa tertinggal dan gagal. Nobody knows what they're doing actually. We all have no experience in life. Kita semua di sini tu fisrt timer.
Ok sekian review dan unek-unek saya semoga bermanfaat. Merci... udah nyempetin baca.
Advertisement
Silahkan jika ada yang ingin berkomentar. Hehe
EmoticonEmoticon